Di tengah denyut kehidupan Kota Kediri yang terus bergerak maju, berdirilah sebuah lembaga pada Hari Ahad, 9 Juli 2023 M (20 Dzulhijjah 1444 H) yang menjadi oase spiritual, intelektual, dan moral bagi umat: Pondok Pesantren Al Karomah Ngronggo. Lahir dari rahim keikhlasan dan cita-cita luhur pendiri pesantren. Pesantren ini bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang pembentukan jiwa, akhlak, dan peradaban.

Pondok Pesantren Al Karomah didirikan dengan niat tulus oleh Prof. Dr. KH. Nur Ahid, M.Ag. dan Dra. Hj. Budrikhah untuk menghadirkan generasi muslim yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga luhur dalam akhlak.

Keteladanan (uswah) kedua pendiri menjadi ruh yang menghidupkan setiap denyut pendidikan di pesantren ini. Dalam kesederhanaan hidup, ketekunan menuntut ilmu, dan keikhlasan mengabdi, mereka menghadirkan contoh nyata bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi jalan menuju kedekatan kepada Allah dan kemaslahatan umat. Prof. Dr. KH. Nur Ahid, M.Ag. dikenal sebagai sosok yang teguh memadukan ilmu agama dengan wawasan keilmuan modern, sementara Dra. Hj. Budrikhah menghadirkan keteduhan, kesabaran, dan ketulusan dalam mendidik dengan sentuhan keibuan yang menguatkan jiwa para santri.

Dari keteladanan inilah para santri belajar bahwa akhlakul karimah tidak hanya diajarkan, tetapi diteladankan; bahwa dakwah tidak hanya disampaikan, tetapi dihidupkan; dan bahwa ilmu tidak hanya dipelajari, tetapi diamalkan. Nilai-nilai ini menjelma menjadi budaya pesantren—budaya kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan cinta terhadap ilmu serta sesama.

Keteladanan tersebut tidak berhenti pada tataran prinsip, tetapi terwujud dalam laku hidup sehari-hari: kesungguhan dalam mengajar tanpa pamrih, kesabaran dalam membimbing santri satu per satu, serta keteguhan dalam menjaga nilai-nilai Islam di tengah arus perubahan zaman. Para pendiri menanamkan bahwa menjadi alim bukan hanya tentang keluasan ilmu, tetapi juga tentang kelapangan hati, kelembutan sikap, dan keteguhan dalam kebenaran.

Dalam setiap langkahnya, mereka mengajarkan pentingnya keseimbangan antara dzikir dan fikir, antara ibadah dan karya, antara tradisi dan inovasi. Para santri pun didorong untuk tidak hanya menjadi pewaris ilmu, tetapi juga pelanjut perjuangan—membawa cahaya Islam dengan hikmah, kelembutan, dan keteladanan.

Dengan demikian, Pondok Pesantren Al Karomah bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi madrasah kehidupan yang menumbuhkan generasi berkarakter religius, moral, pengetahuan, keterampilan, dan sosial—mereka yang tajam akalnya, lembut hatinya, dan lurus langkahnya dalam mengabdi kepada agama, bangsa, dan kemanusiaan.

Sebagai peneguh arah dan jiwa perjuangan, para pendiri juga menghadirkan untaian hikmah yang senantiasa hidup dalam keseharian pesantren:

“Ilmu tanpa akhlak kehilangan arah, dan akhlak tanpa ilmu kehilangan cahaya.” (Nur Ahid)

“Didiklah hati sebelum mengisi akal, karena dari hati yang bersih akan lahir ilmu yang berkah.” (Ikha)

“Jadilah santri yang tidak hanya pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi mampu menghadirkan kebaikan dalam setiap langkah kehidupan.” (Nur Ahid)

“Kita belajar bukan untuk menjadi yang paling tinggi, tetapi untuk menjadi yang paling bermanfaat.” (Ikha)

Untaian hikmah ini bukan sekadar kata-kata, melainkan napas yang menghidupkan perjalanan pendidikan di Pondok Pesantren Al Karomah—menjadi pengingat bahwa setiap ilmu harus berbuah amal, dan setiap amal harus berlandaskan keikhlasan.

Nama “Al Karomah” sendiri menjadi doa sekaligus harapan: agar setiap langkah, ilmu, dan amal yang tumbuh di dalamnya senantiasa diliputi keberkahan dan kemuliaan.

Sejak awal berdirinya, pesantren ini berkomitmen untuk menjunjung tinggi nilai-nilai Akhlakul Karīmah sebagai fondasi utama pendidikan. Santri tidak hanya dididik untuk memahami ilmu agama secara mendalam, tetapi juga dibimbing untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari—menjadi pribadi yang tawadhu’, jujur, disiplin, dan penuh kasih sayang.

Dengan semangat mengembangkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, Pondok Pesantren Al Karomah memadukan antara tradisi keilmuan klasik (turats) dan wawasan keilmuan modern. Kitab-kitab kuning dikaji dengan penuh ketekunan, sementara ilmu pengetahuan kontemporer diperkenalkan sebagai bekal menghadapi tantangan zaman. Di sinilah lahir harmoni antara iman, ilmu, dan amal.

Pesantren ini juga menjadi pusat dakwah yang hidup. Dari bilik-bilik sederhana, lahir para da’i yang siap menyebarkan nilai-nilai Islam yang damai, toleran, dan mencerahkan. Dakwah yang dibangun bukan sekadar retorika, tetapi teladan nyata dalam kehidupan sosial, membangun ukhuwah, serta menghadirkan solusi bagi persoalan umat.

Lebih dari itu, Pondok Pesantren Al Karomah memiliki visi besar untuk mencetak kader-kader ulama dan ilmuwan yang berintegritas. Generasi yang tidak hanya faqih dalam ilmu agama, tetapi juga mampu berkontribusi dalam berbagai bidang keilmuan dan peradaban. Mereka diharapkan menjadi cahaya di tengah umat—membimbing, menginspirasi, dan membawa perubahan.

Perjalanan pesantren ini tentu tidak lepas dari berbagai tantangan.

Dalam proses awal pendiriannya, Pondok Pesantren Al Karomah juga mendapatkan keberkahan dari para masyayikh agung yang menjadi peletak batu pertama pembangunan, tepatnya pada bulan Juli 2015, yaitu Al-Mukarram Romo KH. Anwar Mansur, Romo KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, dan KH. Ilham Nadzir (almarhum) dengan didampingi Gus Athoillah, Gus Bar dan Gus Ibrahim. Beliau-beliau merupakan pengasuh dan sesepuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri yang dikenal luas dengan kedalaman ilmu, keteguhan dalam menjaga tradisi pesantren, serta keluasan hikmah dalam membimbing santri dan umat.

Kehadiran para kiai sepuh tersebut bukan hanya menjadi simbol dimulainya pembangunan fisik pesantren, tetapi juga menjadi peneguhan ruh spiritual dan sanad keilmuan yang tersambung dengan tradisi besar pesantren di Nusantara. Doa, restu, dan keteladanan beliau-beliau menjadi fondasi kokoh bagi Pondok Pesantren Al Karomah untuk tumbuh sebagai lembaga yang berakar kuat pada nilai-nilai salafiyah, sekaligus terbuka terhadap perkembangan zaman. Namun dengan keteguhan niat, kesabaran, dan doa yang tak pernah putus, Pondok Pesantren Al Karomah terus tumbuh dan berkembang. Ia menjadi saksi bahwa dari kesederhanaan dapat lahir kekuatan besar, dan dari keikhlasan dapat tumbuh keberkahan yang tak terhingga.

Hari ini, Pondok Pesantren Al Karomah Ngronggo Kota Kediri berdiri sebagai simbol harapan—tempat di mana ilmu dipelajari, akhlak dibina, dan masa depan umat dirancang. Sebuah rumah bagi jiwa-jiwa yang rindu akan cahaya ilmu dan kehangatan iman.

Semoga pesantren ini senantiasa menjadi ladang amal jariyah bagi pendiri pesantren, para guru, dan seluruh keluarga besar yang terlibat di dalamnya. Dan semoga dari rahimnya terus lahir generasi-generasi terbaik yang membawa Islam, ilmu pengetahuan, dan peradaban menuju kemuliaan yang hakiki.

hujan